Berita

PPDB Online



Kontak


Alamat :

Jl. STM Ujung/Suka Teguh No. 1 Kec. Medan Johor

Telepon :

(061) 7873038 - 0812 6233 8895

Fax :

(061) 7873042

Email :

smp.khairul.imam@gmail.com

Website :

www.khairul-imam.sch.id


Kalender


September 2020

Mg Sn Sl Rb Km Jm Sb
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30

Sekolah Islam Terpadu Dalam SISDIKNAS


Sejak era reformasi tahun 1998, Pemerintah Indonesia telah melakukan reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan diawali dengan melakukan amandemen Undang-undang Dasar (UUD) 1945, terutama pasal 31 yang mengamanatkan bahwa (1) setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, (2) pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional, (3) setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya, (4) pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia, dan (5) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurangkurangnya 20% dari APBN dan APBD (UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5).
Pasal 31 UUD 1945 yang merupakan hasil amandemen MPR tahun 2002 itu memberikan amanat kepada pemerintah sebagai pemegang kebijakan di negara ini. Untuk melaksanakan amanat tersebut disusun UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) (Sutrisno, 2011: 159). Sebagaimana tertuang dalam pasal 31 dari UUD 1945 tersebut dinyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia. Dengan demikian, semua praktek pendidikan di semua lembaga pendidikan di Indonesia, baik pesantren, madrasah, maupun sekolah seharusnya mengacu kepada rumusan tujuan pendidikan yang terdapat dalam UUD 1945 tersebut.
Ada tiga model lembaga pendidikan yang berkembang di Indonesia yaitu sekolah (umum), madrasah (agama), dan pesantren. Sekolah umum dan madrasah merupakan lembaga pendidikan yang secara formal berada di bawah naungan sistem pendidikan nasional. Sekolah umum berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Madrasah berada di bawah naungan Kementerian Agama. Sedangkan pesantren merupakan lembaga pendidikan independen yang tidak berada di bawah naungan kedua kementerian tersebut. Jumlah pesantren telah mencapai 47.000 di seluruh wilayah Indonesia. Perkembangan terakhir, sebagian pesantren diberi pengakuan setara oleh pemerintah dengan dua lembaga pendidikan tersebut sehingga alumni pesantren memiliki ijazah yang dapat digunakan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi baik di sekolah umum maupun madrasah.
Tiga model lembaga pendidikan di atas, menurut para pendiri Sekolah Islam Terpadu, telah gagal mewujudkan cita-cita pendidikan nasional. Ketiga lembaga pendidikan itu tidak mampu mencetak generasi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sekolah umum hanya melahirkan alumni yang menguasai sains dan teknologi namun jauh dari nilai-nilai tauhid. Pesantren hanya dapat mencetak alumni-alumni yang hanya sebatas menguasai ilmu-ilmu agama yang dianggap tidak cukup untuk eksis dalam kehidupan modern. Sedangkan madrasah yang awalnya ingin menjembatani keduanya, hingga kini masih belum mampu memberi keyakinan kepada masyarakat.
Di tengah-tengah kegelisahan itu, sebagian para aktivis Muslim Indonesia bekerja sama untuk mendirikan model lembaga pendidikan alternatif yang mampu mengintegrasikan antara penguasaan sains dan teknologi dan basic pendidikan agama yang kuat. Para aktor gerakan Sekolah Islam Terpadu mengungkapkan bahwa saat ini kondisi pendidikan nasional di Indonesia sedang mengalami keterpurukan. Padahal pada masa-masa sebelumnya, baik pada masa Nabi beserta Sahabat dan zaman kekholifahan Bani Umayyah maupun Bani Abbasiyah, pendidikan Islam mengalami puncak kejayaan. Salah seorang pengurus Jaringan Sekolah Islam Terpadu mengungkapkan: "Jika mengingat sejarah munculnya Sekolah Islam Terpadu pada tahun 1990an, sebenarnya sekolah ini muncul sebagai rasa kekecewaan para aktivis terhadap kondisi pendidikan di Indonesia saat itu. Para aktivis menganggap bahwa pendidikan di Indonesia belum cukup mewakili praktek pendidikan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Praktek pendidikan di Indonesia cenderung memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum sehingga membuat anak didik mengalami split personality. Oleh karena itu Sekolah Islam Terpadu menawarkan satu model pendidikan yang terintegrasi antara pendidikan agama dan pendidikan umum (Wawancara dengan MZ, pengurus JSIT Wilayah Yogyakarta)."
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa para pendiri Sekolah Islam Terpadu mendambakan sebuah praktek pendidikan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad beserta para Sahabat dulu. Mereka menilai bahwa praktek pendidikan yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad dan para Sahabat dulu telah menghasilkan manusiamanusia hebat yang memiliki kedalaman akhlak dan ilmu sekaligus. Kondisi seperti itu terus berlanjut ke masa-masa tabi`in. Salah seorang pendiri Sekolah Islam Terpadu mengungkapkan: "Pada saat itu, dunia Islam mampu melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan kaliber dunia dan bersama dengan perkembangan ilmu tersebut berkembang dan maju peradaban Islam. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Saat ini, kondisi pendidikan Islam seperti tidak berdaya dalam menghadapi kemajuan sains dan teknologi yang datang dari Barat. Hal ini didukung sebagian umat Islam yang masih menganggap sebelah mata terhadap ilmu-ilmu umum karena mempelajarinya masih dianggap sebatas fardhu kifayah. Dalam kondisi ini, dikotomi masih sangat kuat dan pelaksanaan pendidikan Islam hanya mampu menyesuaikan diri dengan pendidikan Barat yang sekuler." (Masruri, 2011:7).
Sebenarnya telah banyak para cendekiawan Muslim yang menawarkan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Fazlur Rahman, seorang cendekiawan Muslim asal Pakistan, menawarkan salah satu pendekatannya dengan cara menerima pendidikan sekuler modern sebagaimana yang berkembang di Barat dan mencoba untuk mengislamkannya, yakni mengisinya dengan konsep-konsep kunci tertentu dari Islam. Pendekatan yang ditawarkan ini, menurutnya memiliki dua tujuan, yaitu: pertama, upaya membentuk watak pelajar dan mahasiswa dengan nilai Islam dalam kehidupan individu dan masyarakat; kedua, para ahli yang berpendidikan modern untuk menamai bidang kajian masingmasing dengan nilai Islam pada perangkatperangkat yang lebih tinggi menggunakan perspektif Islam untuk mengubah kandungan maupun orientasi kajian-kajian mereka (Rahman, 1985: 160). Senada dengan Rahman, al-Faruqy menyatakan bahwa sistem pendidikan Islam harus dipadukan dengan sistem sekuler. Perpaduan kedua sistem pendidikan tersebut diharapkan akan lebih banyak dapat dilakukan daripada sekedar memakai cara-cara sistem Islam dan cara-cara otonomi sistem sekuler (Al-Faruqy, 1984: 25). Dengan demikian, ilmu-ilmu agama Islam akan selalu bersinggungan dengan realitas kehidupan sehari-hari dan ilmuilmu umum modern dapat dibawa dan dimasukkan ke dalam kerangka sistem Islam (Nakosteen, 1996: 212-218) (Muqowim, 2012: 113-282).
Meskipun lahir sebagai kritik terhadap kelemahan sistem pendidikan nasional, dalam perkembangannya, Sekolah Islam Terpadu ternyata justru menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Setidaknya ada empat indikator yang dapat digunakan untuk melihat bahwa Sekolah Islam Terpadu merupakan bagian (subsistem) dari sistem pendidikan nasional di Indonesia, yaitu; 1) penggunaan nama sekolah; 2) adopsi kurikulum nasional; 3) penyesuaian sistem ujian, dan 4) sertifikasi guru oleh guru-guru sekolah Islam terpadu.

Referensi:
Al-Faruqy, Ismail Raji. (1984). Islamisasi Pengetahuan. Terj. Anas Mahyudin. Bandung: Pustaka-Perpustakaan Salman Institute Teknologi. 
Masruri, Eri. (2011). "Membangun Paradigma Baru Pendidikan Islam Terpadu” sebuah alternatif, Makalah, disampaikan dalam diskusi pendirian Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Yogyakarta. [wawancara]
Muqowim. (2012). Genealogi Intelektual Saintis Muslim Sebuah Kajian tentang Pola Pengembangan Sains dalam Islam pada Periode `Abbasiyyah. Jakarta: Kementerian Agama RI.
Nakosteen, Mehdi. (1996). Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam. terj. Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah. Surabaya: Risalah Gusti.
Sutrisno. (2011). Pembaharuan dan Pengembangan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Fadhilatama
Suyatno, S. (2016). SEKOLAH ISLAM TERPADU DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONALAl-Qalam21(1), 1-10.
Rahman, Fazlur. (1985). Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual. terj. Ahsin Mohammad. Bandung: Pustaka.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 31, ayat 1-5.